Dr Jon Erizal Paparkan Empat Pilar Kebangsaan di depan Ratusan Pemuda Dan Kader Posyandu

 

PEKANBARU, seputarriau.co  - Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Dr. H. Jon Erizal, SE., MBA mensosialisasikan Empat pilar kebangsaan di Lantai 7 Hotel Bono  Jl. Riau Kav. 22 No. 103 Kec. Senapelan Pekanbaru, 2 Juni 2023.

Hadir dalam kegiatan ini Anggota DPRD Riau Ade Hartati Rahmad, Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Riau Arif Eka Saputra dan tokoh pemuda Pekanbaru Al Qusairi serta diikuti oleh Kader Posyandu se Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru Provinsi Riau.

Awalnya Jon Erizal menjelaskan tentang Persatuan Indonesia secara politis sudah didefinisikan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan salah satu sila dasar negara tetapi secara psikologis masih belum jelas. Dari perspektif psikologi sosial, dapat dikembangkan beberapa model persatuan dalam kebhinnekaan. Pertama adalah dekategorisasi dan personalisasi. Maksudnya, dari berbagai suku, golongan serta kelompok yang mengalami salinasi kategori atau identitas kelompok sangat kuat, dilakukan upaya agar identitas kelompok hilang.

“Pertama adalah dekategorisasi dan personalisasi. Maksudnya dari berbagai suku, golongan serta kelompok yang mengalami salinasi kategori atau identitas kelompok sangat kuat, dilakukan upaya agar identitas kelompok hilang”, tegas Jon.

Kemudian Jon menjelaskan model kedua adalah rekategorisasi, yaitu melebur kategori “kami” dan “mereka” menjadi “kita”. Sepintas upaya rekategorisasi untuk membentuk identitas Indonesia merupakan upaya ideal. Kenyataan menunjukkan bahwa upaya ini tidak berhasil. Model ketiga yaitu model diferensiasi mutual. Model ini mengakui adanya perbedaan-perbedaan tetapi mereka memiliki peran-peran yang komplementer yang akan mendukung keberhasilan tujuan umum.

“Model kedua ini sepintas upaya rekategorisasi untuk membentuk identitas Indonesia merupakan upaya ideal. Kenyataan menunjukkan bahwa upaya ini tidak berhasil dan model ketiga diferensiasi mutual model ini mengakui adanya perbedaan-perbedaan tetapi mereka memiliki peran-peran yang komplementer yang akan mendukung keberhasilan tujuan umum”, kata Jon.

Anggota Komisi VI DPR RI ini menambahkan model selanjutnya disebut model hybrid, model ini mengakui bahwa individu pada umumnya memiliki lebih dari satu identitas. Orang dengan identitas seperti ini bisa saja memperlakukan identitas dirinya secara hirarkhis atau memiliki persilangan kategori.

“Di era global seperti sekarang ini tampaknya model hibrida ini akan lebih berkembang sekaligus dapat mengakomodasi kepentingan berbagai pihak tanpa perlu penyeragaman. Untuk mengikat model hibrida dalam persatuan bangsa masih diperlukan pengembangan aspek psikologis lain, di antaranya adalah penghormatan, kepercayaan, keadilan, kebijaksanaan, dan pemaafan atas kesalahan pihak lain", kata putra daerah Bengkalis ini.


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar