Warga Desa Buatan Kepung Kantor PT Wana Subur: Tuntut Kejelasan MoU Lahan 922 Ha
SIAK, seputarriau.co - Ratusan petani dari Kelompok Tani Maju Lestari dan GAPOKTAN Anugerah di Desa Buatan II, Kecamatan Koto Gasib, Siak, kembali turun ke jalan. Mereka menuntut PT Wana Subur Sawit Indah - PT SSI - segera merealisasikan Memorandum of Understanding (MoU) bagi hasil lahan seluas ±922 hektar yang hingga kini diabaikan sejak Juni 2022.
Aksi massa dipusatkan di depan kantor PT SSI, Dusun Lingkaran Naga, Kampung Buatan II. Dengan membawa spanduk dan berorasi, warga mendesak manajemen perusahaan memberi kepastian hukum atas lahan garapan mereka.
"Ini bukan minta sedekah. Ini lahan kami. Ada MoU-nya. Tapi setelah di-takeover PT SSI, semua perjanjian dengan manajemen central/Perusahaan dulu seolah hilang," tegas Sabar, Ketua GAPOKTAN Anugerah, saat diwawancarai di lokasi demo, Rabu 15/10/2026.
Berdasarkan data kelompok, lahan yang dipersengketakan terbagi dua. GAPOKTAN Anugerah mengklaim ±420 hektar, sementara Kelompok Tani Maju Lestari menuntut ±522 hektar. Lokasi keduanya berdampingan dan kini seluruhnya dikelola PT SSI.
Para petani menyebut perjanjian awal adalah skema kemitraan bagi hasil. Namun pasca pengambilalihan perusahaan, poin-poin penting dalam MoU tersebut tidak pernah ditindaklanjuti.
"Kami sudah bersurat, audiensi, bahkan demo beberapa kali. Jawabannya cuma diulur-ulur. Sementara lahan terus digarap perusahaan, warga gigit jari," lanjut Sabar.
Tuntutan warga hari ini hanya satu: kejelasan. Kejelasan atas MoU yang sudah disepakati dan kejelasan atas janji-janji kerjasama yang dulu disampaikan perusahaan.
"Kami ini bukan minta. Ini lahan nenek moyang kami. Sudah ada MoU, sudah ada tanda tangan. Tapi sejak PT SSI masuk tahun 2022, kami dianggap tidak ada. Sawit kami digarap, hasil kami tidak jelas. Kami turun ke jalan hari ini karena sudah capek dijanji-janjikan. Kami hanya minta satu: kembalikan hak kami sesuai perjanjian!", ucap salah satu Anggota GAPOKTAN Anugerah Dusun Lingkaran Naga.
Bagi warga Buatan II, 922 hektar itu bukan sekadar angka. Itu sumber hidup 100-an lebih kepala keluarga yang menggantungkan nasib dari bertani.
Hingga berita ini diturunkan, perwakilan PT SSI belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan tersebut. Sementara aparat dari Polsek Koto Gasib terlihat berjaga mengamankan aksi.
Warga mengancam akan memperluas aksi jika dalam waktu dekat tidak ada itikad baik dan kejelasan tertulis dari PT SSI.
(MN)




Tulis Komentar