Kemensos Butuh Rp 6,72 T Per Tahun Untuk Merawat Lansia Terlantar
Foto : ilustrasi (Copyright int)
JAKARTA, seputarriau.co - Jumlah masyarakat lanjut usia (lansia) setiap tahunnya bertambah di Indonesia, dan di negara lain. Peningkatan jumlah lansia di Indonesia perlu disoroti lebih dalam, agar nantinya tidak menjadi beban masyarakat.
Kementerian Sosial berupaya memberikan perlindungan kepada lansia, salah satunya dengan Bantuan Langsung Tunai Bersyarat (BLTB), sebagai perwujudan dari Program Keluarga Harapan (PKH). Hal ini dilakukan, banyaknya penduduk usia lanjut yang terlantar dan tidak dalam naungan keluarganya. Sedangkan jumlah tempat perlindungan, seperti panti jompo dan tempat perawatan lansia lainnya masih terbatas.
Untuk menangani permasalahan ini, Kementerian Sosial membutuhkan dana Rp 6,72 triliun per tahun. Dana tersebut digunakan untuk santunan kepada masyarakat lansia yang terlantar.
"Kalau pemerintah akan memberikan bantuan sosial berkelanjutan PKH semua lansia terlantar butuh Rp 6,72 triliun per tahun. Angka yang tidak mudah untuk direalisasikan butuh dukungan dari DPR," ungkap Direktur Jenderal Jaminan dan Perlindungan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat, saat acara Live Long and Prosper oleh Bank Dunia di Pakarti Center, Jakarta Pusat, Senin (23/5/2016).
Selain itu, kebutuhan akan tempat perawatan lansia juga masih terus dibutuhkan. Panti jompo yang saat ini ada dianggap masih belum cukup menampung jumlah lansia terlantar yang ada di Indonesia. Dukungan jaminan kesehatan seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) juga masih dibutuhkan dalam jumlah banyak, karena masih banyak lansia tang belum mendapatkan fasilitas tersebut.
"PKH bukan satu-satunya. Home care, day care, atau residential care apabila tanggung jawab keluarganya sudah terabaikan juga diperlukan. Mempunyai Kartu Indonesia Sehat, banyak lansia yang tidak mendapatkan akses Kartu Indonesia Sehat menjadi hambatan untuk memerikasakan kesehatan," jelas Harry.
Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah, swasta, dan masyatajat itu sendiri perlu terlibat untuk mengurangi jumlah lansia yang terlantar.
"Perlu mempersiapkan generasi saat ini agar mampu menjadi generasi yang tangguh di masa tuanya. Dibutuhkan kerja sama pemerintah, swasta, serta masyarakat untuk mengurangi risiko lansia," kata Harry.
(IS/dtc)




Tulis Komentar