PEKANBARU, seputarriau.co - Kedatangan Presiden Jokowi ke Riau ternyata dirasakan oleh Petani Sawit untuk menyampaikan aspirasi. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh KH T. Rusli Ahmad, SE, MM, Dewan Penasehat DPP APKASINDO, menyampaikan kondisi petani sawit Indonesia.
“Harga TBS Petani sangat memprihatinkan Pak Jokowi, rerata masih Rp1800 s/d 2.350/kg, karena Permentan No 03 Tahun 2022 yang mengatur tata cara penetapan harga TBS, tidak berpihak kepada petani sawit. Terkhusus petani sawit swadaya yang jumlahnya 97 persen, tidak diakomodir dalam Permentan tersebut, hanya mengikat para petani bermitra yang jumlahnya tidak lebih dari 7 persen,” kata Rusli Ahmad kepada wartawan pada Kamis (5/1/2023) di Pekanbaru.
Selain itu lanjut Rusli Ahmad, menyampaikan dalam Permentan tersebut, terdapat 38 syarat yang jelimet, sehingga para petani sawit kesulitan untuk mendapatkan program PSR.
“Akibatnya adalah program strategi presiden secara nasional gagal. Ini sangat memperinhatinkan. Apalagi di Riau sebagai provinsi terluas kebun sawit nya, pencapaian PSR di Riau tahun 2022 nol persen, juga, beberapa Provinsi lainnya juga nol persen capaian PSR” jelas Rusli Ahmad.
Menurutnya, harus menjadi catatan kepada oleh Presiden dan patut menjadi pertimbangan Presiden Jokowi untuk mengevaluasi Kinerja Kementerian Pertanian, ini urgen dan harus gerak cepat Pak Jokowi.
“Setahu saya, Visi Misi itu hanya Visi Misi Presiden dan Wakil Presiden. Menteri adalah pembantu Presiden, oleh karena itu jangan ada visi misi lain Kementerian yang bertentangan dengan Program Strategis Presiden dan Wakil Presiden,” tegas Rusli Ahmad.
Rusli yang didampingi oleh Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat ME Manurung, MP, C.IMA dan Sekjen DPP APKASINDO Dr. cn. Rino Afrino, ST, MM, C.APO, menambahkan pemaparan dari Rusli tentang capaian PSR.
Gulat ME Manurung, secara teknis menguraikan kepada Presiden Jokowi tentang permasalahan petani, terkhusus terkait capaian PSR yang viral di akhir tahun lalu.
“Capaian PSR tahun 2022 lalu adalah capaian yang terendah sepanjang sejarah dan ini sangat mempengaruhi psikologis petani sawit untuk mengikuti arahan Presiden agar mengikuti PSR,” beber Gulat.
Lanjutnya lagi, secara terus terang di hadapan Presiden, Gulat menyampaikan para petani sawit berkecil hati dengan angka PSR di tahun 2022 yang hanya 9,4% dari target 180.000 ha di saat Pak Jokowi sangat antusias menuntaskan capaian yang sudah ditargetkan.
Terkhusus persyaratan yang berhubungan dengan KLHK dan terakhir ditambah pula persyaratan harus bebas Gambut dari Ditjen Lingkungan Hidup (PPKL), merupakan kendala utama yang berimbas pada rendahnya capaian PSR di tahun 2022.
“Kami berharap Pak Presiden segera turun tangan mengatasi kendala petani sawit mengikuti program strategis Presiden, seperti PSR dan Hilirisasi TBS Petani,” ucap Rino menambah masukan kepada Presiden Jokowi.
Guna menuntaskan permasalahan Utama PSR, perlu duduk bersama lintas kementerian dan harus dengan sungguh-sungguh mencari resolusi atas permasalahan Persyaratan PSR, yang cukup ribet dan rumit karena petani sawit harus pontang-panting mengurus 38 persyaratan lintas kementerian, sebagaimana tertuang di Permentan 03/2022.
“Harusnya permentan nya menyesuaikan dengan objek dan subjek petani sawit, supaya permentan tersebut bisa Operasional dan Program Bapak Presiden tercapai sesuai target”, ujar Rino.
Mendengar paparan perwakilan petani sawit tersebut, Presiden Jokowi tampak terdiam sejenak sambil mengkerutkan kening dan langsung memerintahkan Protokoler Istana meminta nomor HaPe Gulat dan Rino, agar segera dikomunikasikan rincian kendala dan hambatan PSR serta kendala Program BPDPKS lainnya untuk kemudian segera dirapatkan di Jakarta.
Sumber : Oketimes.com