Radio Tetap Bertahan Fiera Digital

Sabtu, 02 Oktober 2021 - 08:24:19 wib
Radio Tetap Bertahan Fiera Digital

Labuhanbatu, seputarriau.co- Siapa yang tidak mengenal radio, hampir setiap orang dalam hidupnya pernah mendengarkan radio. Keberadaan radio tetap bisa eksis meski saat ini adalah era internet, padahal sejak dulu radio dipandang sebagai media lama yang akan ditelan zaman. Saat ini, alat komunikasi dan platform media yang selalu  dibawa seseorang adalah gadget, smart phone maupun mobile phone. Semakin mudah dan murahnya akses internet ikut mendorong penggunaan medium jenis ini terus meningkat. Apa yang membuat radio bertahan? Untuk dapat mengetahuinya, ada baiknya kita mengenal Radio terlebih dahulu.

Menurut informasi dari situs Radio Republik Indonesia, Perkembangan radio di Indonesia diawali oleh Batavia Radio Vereniging (BRV) pada 16 Juni 1925 di Batavia, yang sekarang menjadi Jakarta. Seiring berjalannya waktu, radio terus berkembang dan bermunculan. Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM) mulai berdiri di Jakarta, Bandung dan Medan. 

Setelah Jepang mengambil alih Indonesia, radio-radio siaran Jepang mulai berkumandang di Tanah Air. Selain untuk memberikan informasi, siaran radio juga sebagai propaganda Jepang untuk Indonesia. Bom Hiroshima dan Nagasaki menjadi tanda runtuhnya Jepang atas Indonesia. Berkat informasi radio, akhirnya Indonesia bisa segera merealisasikan kemerdekaanya melalui momentum proklamasi. Akhirnya Hoso Kyoku dihentikan siarannya tanggal 19 Agustus 1945. RRI didirikan sebulan setelah siaran radio Hoso Kyoku dihentikan. Saat itu, masyarakat menjadi buta akan informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Indonesia merdeka. Menanggapi hal tersebut, orang-orang yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari radio merupakan alat yang diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan.

Wakil-wakil dari 8 bekas radio Hosu Kyoku mengadakan pertemuan bersama pemerintah di Jakarta. Pada 11 September 1945, delegasi radio sudah berkumpul di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon dan diterima sekretaris negara. Delegasi radio yang saat itu mengikuti pertemuan adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi. Abdulrahman Saleh yang menjadi ketua delegasi menguraikan garis besar rencana pada pertemuan tersebut. Salah satunya adalah mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah. Pada pukul 24.00, delegasi dari 8 stasiun radio di Jawa mengadakan rapat di rumah Adang Kadarusman. Hasil akhir dari rapat itu adalah didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya.Kemudian tanggal 11 September diperingati sebagai Hari RRI yang kemudian dirayakan sebagai Hari Radio Nasional.

Seiring perkembangan zaman, banyak radio yang berkembang. Masyarakat jadi mulai menikmati. Kita mungkin pernah menelepon untuk meminta lagu yang disuka diputar, menitip pesan,  atau sekadar menjawab pertanyaan kuis. Kalau menang, kita harus datang ke stasiun radio dan mengambil hadiahnya, sekaligus mungkin bisa bertemu penyiar kesayangan.  Saat jamnya tiba, kita nyalakan radio, menunggu penyiar membacakan pesan dan memutarkan lagu yang diminta. Kita ikut tertawa saat penyiar melucu atau membacakan pesan dan salam dari orang yang kita kenal.

Seiring pesatnya pertumbuhan internet, pengelola stasiun radio dihadapkan pada tantangan besar, yakni bergesernya pola konsumsi media. Popularitas radio  semakin memudar setelah digilas televisi, dan sekarang pendengarnya disedot beragam media di internet. Orang kini dengan mudah mendapatkan berita dan hiburan atau lagu di jejaring dunia maya. Beragam informasi berserakan di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya. Segala jenis lagu, lawas dan terbaru, komplit di Youtube.

Bagaimana radio bisa bertahan sekarang ini? Pertama radio menjadikan media sosial sebagai mitra, bukan sebagai saingan, memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk berinteraksi dengan para pendengar. Kedua, Radio memperbaharui konten siaran, melakukan survey kepada masyarakat untuk mengetahui apa yang masyarakat inginkan,dan memutar lagu-lagu yang saat ini populer di masyarakat.

Alasan ketiga, sifat radio yang auditif, membuat radio bisa didengarkan kapan saja, sambil melakukan kegiatan lain, seperti mengemudikan mobil, memasak, bekerja, membersihkan rumah, dan kegiatan lain. Terakhir, rasa nostalgia, beberapa masyarakat ingin kembali sensasi mendengarkan radio seperti dulu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Radio Siaran di Labuhanbatu

RRI merupakan Lembaga Penyiaran Publik. Lembaga Penyiaran ini didirikan oleh negara, bersifat independen, netral, tidak komersial dan bertujuan untuk memberikan layanan untuk masyarakat. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu juga memiliki Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) yaitu Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Rantauprapat 96,5 FM yang beralamat di Jl.Sisingamangaraja no.16 Aek Tapa, Rantauprapat . RSPD berfungsi sebagai media penyebaran informasi kepada seluruh masyarakat Labuhanbatu, tak hanya itu RSPD juga memberikan hiburan dengan memutar lagu. 


RPSD juga berperan dalam melakukan siaran langsung kegiatan-kegiatan pemkab, seperti pada pelaksanaan kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-50 Tahun 2021 beberapa bulan lalu, dan juga pada Serah terima jabatan Bupati dan Wakil Bupati Labuhanbatu pada sidang paripurna DPRD Kabupaten Labuhanbatu, dimana Bupati Labuhanbatu dr. H. Erik Adtrada Ritonga,M.K.M, membacakan pidato pasca pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Labuhanbatu, yang disiarkan langsung kepada seluruh masyarakat Labuhanbatu melalui radio. (Legimin)