Opini Publik

Taufik Rahman Benarkan Penghalangan & Pemulangan Neno Warisman dilakukan Oleh Kabinda Riau

PEKANBARU, seputarriau.co  - Pro dan kontra masih terus terjadi seiring permasalahan penghadang dan pemulangan paksa Ustadzah Neno Warisman oleh Polisi dan Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Riau. 

Namun di balik itu semua, dua orang anggota DPRD Provinsi Riau yang langsung turun ke lokasi kejadian membeberkan kesaksiannya bagaimana kejadian tersebut terjadi.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau Noviwaldy Jusman, membenarkan adanya perlakuan kasar dari aparat dan Kabinda saat kejadian tersebut. Bahkan ketika ingin membelikan makanan untuk Neno Warisman, pihak aparat tidak memberikan izin. 

Padahal saat itu Neno yang tertahan hampir selama 7 jam di gerbang pintu masuk bandara dan dikabarkan belum makan dan minum sejak siang hari tiba di Bandara SSK II Pekanbaru. 

"Kami membelikan makanan, tiba-tiba tidak boleh sama aparat. Ini kan melanggar hak asasi manusia. Tahanan saja dikasih makan, Ini kenapa seperti perang begini sampai makan dan minum tidak boleh dikasih. Kan kasihan sekali, memprihatinkan," kata Noviwaldy Jusman saat menceritakan suasana saat itu (28/08).

Sambung pria yang akrab disapa dengan Dedet ini menyarankan untuk membawa Neno Warisman ke VIP Bandara Lancang Kuning yang merupakan milik Pemprov Riau. Namun tiba-tiba ternyata Neno dibawa masuk ke dalam pesawat dan diterbangkan ke Jakarta malam itu juga.

"Kita tidak tahu kalau ternyata (Neno) dipulangkan karena pada awalnya masih bernegosiasi," tukasnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Komisi I DPRD Riau, Taufik Arrahman. Taufik menjelaskan dirinya turun kelokasi karena ingin melindungi tamu yang akan berkunjung ke Riau. 

"Semua pihak tahu soal penghadangan Bunda Neno di Bandara SSK II, Sabtu kemarin. Maka saya juga berinisiatif untuk turun karena beliau adalah tamu kita," cerita Taufik, Selasa (28/8/2018).

Taufik menceritakan sesampainya dirinya di bandara pada ba'da Magrib, suasana sudah sangat ramai. Ia dan beberapa tokoh masyarakat lainnya mencoba untuk bernegoisasi dengan Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanti. Semua meminta kalau sebaiknya Neno diberi waktu untuk istirahat sebab Neno adalah tamu di Riau.

Taufik juga membenarkan kalau dalam proses negosiasi, sempat terjadi perdebatan dengan Kapolresta Pekanbaru karena mereka meminta agar pihak kepolisian memberi kelonggaran kepada Neno Warisman untuk istirahat.

"Kapolres tetap tidak mau melepaskan, alasannya mereka sudah diperintahkan seperti itu. Akhirnya terjadilah perdebatan antara saya dan Kapolres, aparat kepolisian mengambil keputusan untuk memulangkan Neno secara paksa. Dan Neno dibawa ke bandara dengan pengawalan petugas," tambahnya.

Taufik menambahkan, dirinya beserta para tokoh ikut mengantarkan Neno Warisman menuju bandara. Dan dirinya juga menyaksikan terjadinya keributan antara pengiring Bunda Neno dan Kabinda Riau. 

"Saya ikut antar ke bandara sebagai adab tuan rumah mengantar tamu yang mau pulang. Namun, saat mobil berhenti di bandara, memang Kabinda Riau ada di sana, dan sempat terjadi keributan antara Kabinda dan pengiring Neno. Saya memang sempat menahan terjadinya keributan, dan akhirnya memang Neno Warisman harus dipulangkan," pungkas Taufik.

(HERI)