Riau

Budi Sumarno: Perfilman Dumai Bisa Jadi Media Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif

 

Dumai, Seputarriau.co  — Kota Dumai dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem perfilman yang mengangkat kekayaan budaya Melayu pesisir. Selain menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda, pengembangan perfilman juga dinilai dapat mendukung pelestarian budaya sekaligus membuka peluang baru di sektor ekonomi kreatif.

Gagasan tersebut mendorong agar perfilman di Dumai tidak hanya ditempatkan sebagai industri hiburan, tetapi juga sebagai media untuk mendokumentasikan kebudayaan, mengangkat kehidupan masyarakat dan memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.

Budi Sumarno menyebut, kekayaan budaya Melayu pesisir Dumai dapat menjadi sumber cerita yang memiliki karakter kuat. Tradisi seperti seni Zapin, musik Ghazal, sastra lisan Gurindam hingga sejarah kemaritiman dapat dikembangkan menjadi berbagai karya sinematik.

Potensi Dumai juga semakin kuat dengan keberadaan kawasan pesisir, hutan bakau dan kawasan industri yang memiliki karakter visual tersendiri. Lanskap tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lokasi produksi film sekaligus dikembangkan untuk mendukung wisata berbasis perfilman atau film tourism.

Namun, pengembangan perfilman daerah masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal distribusi. Karya sineas daerah tidak selalu mudah masuk ke jaringan bioskop komersial sehingga film yang telah diproduksi berpotensi kesulitan menjangkau penonton secara luas dan berkelanjutan.

Karena itu, diperlukan alternatif distribusi yang tidak sepenuhnya bergantung pada bioskop. Pemanfaatan platform digital serta pemutaran film secara langsung di tengah masyarakat menjadi salah satu pilihan yang dapat dikembangkan.

Konsep tersebut dapat diperkuat melalui model ekonomi kreatif atau moviepreneur. Sumber pendapatan dapat berasal dari tiket pemutaran, kerja sama sponsor, sistem bagi hasil hingga penjualan merchandise. Hasil yang diperoleh selanjutnya dapat diputar kembali sebagai modal untuk mendukung produksi karya berikutnya.

Dalam konsep ini, SinemaKita diarahkan sebagai platform streaming OTT sekaligus jaringan distribusi alternatif bagi film independen berbasis komunitas. Platform tersebut diharapkan menjadi etalase digital bagi film pendek maupun dokumenter karya sineas Dumai.

Tidak hanya sebagai sarana distribusi, platform digital juga dapat berfungsi sebagai ruang pengarsipan kebudayaan. Dokumentasi mengenai seni, tradisi dan kehidupan masyarakat Melayu pesisir dapat disimpan serta diakses oleh masyarakat dan generasi mendatang.

Jaringan distribusi tersebut juga diharapkan mampu membuka jalan bagi karya lokal untuk mengikuti festival film internasional dan terhubung dengan komunitas sinema di berbagai negara. Dengan begitu, film dapat menjadi salah satu sarana diplomasi budaya untuk memperkenalkan identitas Melayu pesisir Dumai ke tingkat yang lebih luas.

Penguatan ekosistem perfilman juga membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memberikan pelatihan riset kebudayaan dan penulisan skenario berbasis etnografi lokal kepada generasi muda Dumai.

Pelatihan tersebut selanjutnya dapat dikembangkan melalui program inkubasi produksi yang memberikan dukungan teknis serta pendanaan mikro. Dengan cara itu, sineas muda memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya dengan kualitas sinematografi yang semakin baik dan sesuai dengan standar industri.

Ekosistem perfilman yang dibangun juga perlu mencakup berbagai unsur, mulai dari pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, proses kreasi dan produksi, pembiayaan serta investasi, distribusi dan eksibisi, hingga penyediaan lokasi dan layanan produksi.

Di samping itu, diperlukan sinergi antara berbagai bidang seni dan sektor lainnya serta sistem arsip dan dokumentasi budaya. Keseluruhan unsur tersebut menjadi bagian penting agar industri perfilman daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan dan tidak hanya berorientasi pada produksi film.

Kolaborasi antara komunitas dan pemerintah juga dinilai menjadi faktor penting. Dukungan kebijakan daerah terhadap kegiatan perfilman berbasis kebudayaan diharapkan dapat menciptakan ruang yang lebih luas bagi sineas lokal untuk berkembang.

Generasi Z dan milenial Dumai dapat dilibatkan untuk menggali sekaligus menceritakan kembali berbagai sejarah lokal melalui medium film. Sementara itu, platform streaming dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi budaya, sedangkan jejaring diaspora Melayu dapat menjadi salah satu pintu untuk memperluas jangkauan karya.

Pengembangan perfilman Dumai dirancang melalui empat tahapan. Tahap awal difokuskan pada inkubasi riset budaya dan pelatihan teknis sinematografi bagi sineas muda.

Tahap kedua diarahkan pada produksi film pendek dan dokumenter yang mengangkat budaya pesisir Melayu. Setelah ekosistem mulai berkembang, tahap ketiga berfokus pada penguatan ekosistem perfilman Dumai. Selanjutnya, tahap keempat diarahkan menuju produksi film layar lebar yang mengangkat Dumai sebagai bagian dari cerita.

Dari sisi ekonomi, pemanfaatan platform OTT dinilai dapat membantu sineas Dumai menjangkau penonton yang lebih luas tanpa terbatas oleh faktor geografis maupun keterbatasan jumlah jaringan bioskop fisik.

Skema monetisasi berkelanjutan juga dapat diterapkan melalui sistem bagi hasil yang transparan. Pendapatan dari distribusi karya diharapkan dapat kembali mendukung komunitas dan menjadi modal untuk melanjutkan produksi karya-karya berikutnya.

Dengan kekayaan budaya Melayu pesisir, potensi generasi muda serta karakter lanskap yang khas, Dumai dinilai memiliki modal untuk membangun identitasnya dalam peta perfilman Indonesia.

Tantangan selanjutnya adalah membangun ekosistem yang mampu menghubungkan pendidikan, kreativitas, produksi, pembiayaan, distribusi hingga apresiasi dalam satu rantai yang berkelanjutan.

Jika dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak, perfilman di Dumai tidak hanya menjadi sarana hiburan. Lebih dari itu, film dapat menjadi media pelestarian budaya sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.***(Eva)