KUANTAN SENGINGI, seputarriau.co — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNRI Berdampak Desa Sampurago mengikuti kegiatan Lokakarya Mahasiswa KKN UNRI Berdampak “Membangun Kampung” yang dilaksanakan di Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi. Lokakarya ini merupakan forum yang mempertemukan berbagai pihak untuk berdiskusi, mengevaluasi, sekaligus mempresentasikan hasil program secara bersama-sama, sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa KKN dari berbagai desa di Kecamatan Hulu Kuantan untuk memaparkan program kerja beserta output yang telah dilaksanakan selama kurang lebih 40 hari masa pengabdian.
Kegiatan lokakarya ini dihadiri oleh Camat Hulu Kuantan beserta Sekretaris Camat dan jajaran staf Kecamatan Hulu Kuantan, para Kepala Desa dari masing-masing lokasi penempatan KKN, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta seluruh mahasiswa KKN UNRI Berdampak. Dalam forum tersebut, setiap kelompok KKN diberikan kesempatan untuk mempresentasikan program unggulan yang telah dilaksanakan di desa masing-masing beserta hasil atau luaran yang telah dicapai.
Pada kesempatan tersebut, KKN Desa Sampurago mempresentasikan program prioritas berjudul “Penguatan Ketahanan Pangan dan Edukasi Pertanian melalui Pembuatan Hidroponik Bayam di Desa Sampurago, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi”. Program ini dirancang sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, khususnya SDGs 2 (Tanpa Kelaparan), SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Program ini dilatarbelakangi oleh pentingnya ketersediaan sayuran sehat sebagai penopang ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Sistem hidroponik dipilih karena tidak membutuhkan lahan luas, mudah dirawat, dan menghasilkan sayuran yang lebih bersih, sementara bayam dipilih sebagai komoditas karena nilai gizinya yang tinggi, masa panen yang relatif singkat, serta kemudahan budi dayanya. Melalui program ini, mahasiswa berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai budi daya hidroponik bayam, membangun dua unit instalasi hidroponik bayam sebagai sarana edukasi dan praktik, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi sayur sehat, mendukung upaya pencegahan stunting melalui edukasi gizi, serta membentuk kelompok pengelola hidroponik bayam agar program dapat berkelanjutan. Sasaran program ini meliputi Pemerintah Desa Sampurago, anak sekolah dan masyarakat umum.
Selama kurang lebih 40 hari masa pengabdian, program kerja ini dilaksanakan secara bertahap dalam empat pekan. Pada pekan pertama, mahasiswa melakukan pemetaan potensi desa dan lokasi hidroponik, sosialisasi budi daya hidroponik bayam kepada masyarakat, serta pembentukan kelompok pengelola hidroponik bayam. Pekan kedua diisi dengan pelatihan pembuatan instalasi hidroponik sederhana, pembagian bibit dan penanaman bayam, praktik pemberian nutrisi, pemeliharaan, serta pengendalian hama tanaman. Pada pekan ketiga, kegiatan difokuskan pada edukasi manfaat konsumsi sayur bayam bagi kesehatan dan pencegahan stunting, serta pelatihan pengolahan bayam menjadi camilan rumahan berupa keripik bayam. Rangkaian program ditutup pada pekan keempat dengan lomba instalasi hidroponik kreatif, penyusunan buku saku hidroponik bayam, serta serah terima program kepada Pemerintah Desa Sampurago.
Dari keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut, program kerja hidroponik bayam KKN Desa Sampurago berhasil menghasilkan sejumlah luaran nyata, di antaranya dua unit instalasi hidroponik bayam yang berfungsi di Desa Sampurago, terbentuknya kelompok pengelola hidroponik bayam sebagai penjamin keberlanjutan program, serta tersusunnya modul atau buku saku hidroponik bayam sebagai panduan bagi masyarakat. Program ini juga menghasilkan produk olahan bernilai ekonomi berupa keripik bayam, dokumentasi foto dan video kegiatan, poster, video dokumenter, serta artikel media massa dan artikel pengabdian masyarakat yang disiapkan untuk publikasi lebih lanjut.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Nur Arini Yulia, S.ST., M.MPar, menyampaikan apresiasinya terhadap program yang dijalankan mahasiswa bimbingannya. “Saya melihat mahasiswa cukup serius merancang program ini dari tahap pemetaan sampai pendampingan. Harapan saya, kelompok hidroponik yang sudah dibentuk bisa terus aktif dan hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat Desa Sampurago,” ujarnya.
Kepala Desa Sampurago, Muryadi, turut memberikan tanggapan positif atas program hidroponik bayam ini. “Kami dari pemerintah desa menyambut baik program ini karena sejalan dengan upaya kami mendukung ketahanan pangan dan pencegahan stunting. Semoga instalasi yang sudah dibangun bisa terus dirawat dan dikembangkan oleh masyarakat,” katanya.
Ketua Kelompok KKN Desa Sampurago, Muhammad Edli Susilo, turut menyampaikan harapannya usai mengikuti lokakarya. “Kami berharap program hidroponik bayam ini tidak berhenti setelah KKN selesai, tapi bisa terus dikelola oleh kelompok yang sudah dibentuk dan bermanfaat jangka panjang untuk warga Desa Sampurago,” ungkapnya.
Keikutsertaan KKN Desa Sampurago dalam lokakarya ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan hasil pengabdian kepada pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta DPL, sekaligus menjadi bentuk dokumentasi dan pertanggungjawaban atas program kerja yang telah dilaksanakan selama berada di Desa Sampurago. Melalui forum diseminasi ini, mahasiswa KKN dari berbagai desa di Kecamatan Hulu Kuantan dapat saling berbagi pengalaman mengenai program yang telah dilaksanakan di wilayah masing-masing. Bagi KKN Desa Sampurago sendiri, kegiatan ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa program hidroponik bayam tidak hanya menghasilkan instalasi budi daya, tetapi juga membawa pengetahuan, keterampilan, dan kelembagaan yang diharapkan dapat terus dimanfaatkan serta dikembangkan oleh masyarakat Desa Sampurago di masa mendatang.
Dew