Siak, Seputarriau.co - Tim Peneliti Abdullah Tengku Besar Kampar yang diprakarsai oleh PDYM SB HM Yunus Abdullah Rahmadsyah Alhaj Rabu, 3 Mei 2023 mengadakan Ziarah ke Makam Raja Siak Pertama dan kedua di Buantan dan Mempura – Siak Sri Indrapura.
Sultan Siak pertama adalah Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah yang bertahta di Buantan periode 1723 – 1746. Raja Kecik sendiri adalah putra Sultan Johor ke 12 yaitu Sultan Mahmudsyah II. Sedangkan Sultan Siak ke 2 adalah Tengku Buang Asmara Bergelar Sultan Mahmud Abdul Jalil Muhammad Musaffarsyah yang bertahta periode 1746 – 1760 yang memindahkan pusat pemerintahan kerajaan Siak dari Buantan ke Mempura dalam tahun 1755 dan sangat terkenal atas perjuangan heroiknya membunuh 65 orang Belanda di Pulau Guntung Muara Siak tanggal 6 november 1759 dan menjadi tonggak kebangkitan nasional Raja-Raja Melayu melawan hegemoni penjajahan.
PDYM SB HM Yunus Abdullah Rahmadsyah Alhaj pada kegiatan ziarah ini mengatakan bahwa ini sudah yang kesekian kalinya beliau melakukan ziarah ke Siak. Makam Raja-Raja Siak awal tersebut terlihat sangat terpelihara dan bersih dan beliau mengucapkan terimakasih yang setingginya kepada Pemerintah Kabupaten Siak yang sampai hari ini masih tetap menjaga aset tak ternilai sebagai bukti sejarah yang termahsyur.
Pada kesempatan ini TIM Peneliti Abdullah Tengku Besar Kampar juga mengambil gambar ornament pada nisan Raja Kecik di Buantan untuk diteliti. Nisan Raja Kecik sendiri merupakan nisan Aceh tipe – K. Namun berbeda dari nisan-nisan tipe Aceh yang tersebar di Kabupaten Siak. Paduka Duli YM SB HM Yunus Abdullah Rahmadsyah Alhaj mengatakan nisan Raja Siak pertama lebih besar dan ornamen pada nisan tersebut terdapat kaligrafi kalimah-kalimah Tauhid dari enskripsi yang terpahat, cukup layak dan menarik untuk diteliti.
Dimakam Sultan Siak ke 2 Tengku Buang Asmara di Mempura Paduka Duli YM SB HM Yunus Abdullah Rahmadsyah Alhaj dan TIM juga sempat melihat makam-makam di komplek itu dengan nisan batu pahat dari granit dengan enskripsi tulisan jawi dan logo bintang Daud seperti logo yang pernah digunakan oleh kekalifahan Turki Utsmaniyah.
Menurut paduka Tengku Buang sendiri memiliki anak dari beberapa orang istri diantaranya, yang tua, perempuan bernama Tengku Embung Besar. Nama kerat pusatnya Tengku Aisah, satu ibu dengan Tengku Musa. Bundanya anak Raja Lelawangsa. Dari isteri anak Daheng Matekoh bangsa Wajo, digelar Ungku Puan. Baginda berputera seorang lelaki, dinamakan baginda Tengku Ismail, Tengku Daud, Dan lagi istri Baginda yang ketiga anak pegawai, Tengku Abdullah dan Tengku Abdul Rahman. Yang bongsunya perempuan, Tengku Sonit. Dan lagi, Tengku Kamat, dan Tengku Baki, dan Tengku Husein, dan Tengku Yusuf, dan Tengku Muhammad, dan Tengku Busu, dan Tengku Hasan, dan Tengku Taib, dan Tengku Yasin. Yang perempuan, Tengku Saliah, dan Tengku Jikar, dan Tengku Hitam, dan Tengku Halimah.
Tengku Abdullah Raja Kampar adalah anak Tengku Buang Asmara dari istri ketiga. Menurut data VOC di Nationaal Archief Den Haag Belanda dengan nomor inventaris : 8435 1786 29 Agustus - Nov. 20 Nama file : NL-HaNA_1.04.02_8435_0517 menyatakan Tengku Abdullah menjadi Raja Kampar menggantikan saudaranya Tengku Baki dalam tahun 1785. Hal itu dinyatakan dalam surat laporan oleh Raja Muhammad Ali kepada gubernur Malaka tertanggal 4 bulan Sa'ban tahun 1199 hijriah (12 Juni 1785) dan diterjemahkan menurut pernyataan penerjemah tersumpah Encik Taijer di Benteng Malaka pada tanggal 5 Juli 1785.
Nah… dari Tengku Abdullah Raja Kampar inilah jurai kami, ungkap Paduka Duli YM SB HM Yunus Abdullah Rahmadsyah Alhaj.
Paduka juga mengucapkan terimakasih yang setingginya kepada pemerintah kabupaten Siak dan Pemerintah Provinsi Riau yang kini tengah memperjuangkan Sultan Siak ke 2 Tengku Buang Asmara Bergelar Sultan Mahmud Abdul Jalil Muhammad Musaffarsyah untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional atas perlawananya di Pulau Guntung tahun 1759. Insya Allah bulan November nanti kita akan adakan haul Tengku Buang, bersalawat-salawat, bersedekah sedekah di Mempura. Sama-sama kita gaungkan nama Tengku Buang di kancah nasional agar Riau khususnya Siak lebih terpandang dan bermartabat dimata Dunia", Ucap Paduka.
(Jas/M.Nsr)