Labuhanbatu, seputarriau.co- WakilWakil B Labuhanbatu Hj. Ellya Rosa Siregar, S.Pd, MM menghadiri Workshop Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Labuhanbatu 2021-2026 di Aula Hotel Platinum Jalan SM.Raja, Kecamatan Rantau Selatan Labuhanbatu, Selasa 28 September lalu.
Workshop yang terselenggara berkat kerjasama Pemkab Labuhanbatu dengan JHPiego Internasional dalam program Keluarga Berencana Pasca Persalinan (KBPP) yang akan berlangsung dari tahun 2021-2023. JHPiego merupakan lembaga non-profit dunia yang bergerak di bidang kesehatan dan berafiliasi dengan Johns Hopkins University. Agenda dalam workshop kali ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan masukan bagi pemerintah kabupaten dalam proses penyusunan RPJMD 2021-2026.
Angka Kematian Ibu (maternal mortality rate) dan angka kematian bayi (infant mortality rate) merupakan indikator sensitif untuk mengukur keberhasilan pencapaian pembangunan kesehatan, dan juga sekaligus mengukur pencapaian indeks modal manusia.
Sementara itu, proporsi balita stunting sangat penting sebagai parameter pembangunan modal manusia. Seperti halnya penurunan angka kematian ibu, pemerintah juga telah menetapkan percepatan penurunan stunting sebagai major poject yang harus digarap dengan langkah-langkah strategis, efektif, dan efisien.
Ellya Rosa dalam Sambutan nya mengatakan Program KB Pasca Persalinan menurut hasil penelitian berkontribusi untuk penurunan AKI/AKB terutama kematian ibu sebesar 30%, maka diharapkan Dinas Kesehatan maupun Dinas Pengendalian Penduduk dan KB dan Stakeholder terkait lainnya memberikan perhatian dengan pogram ini, agar bisa di akomodir dalam dokumen kebijakan perencanaan kabupaten.
Faktor Penyebab Kematian Ibu
Masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan, termasuk AKI tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, antara lain status kesehatan ibu dan kesiapan untuk hamil, pemeriksaan antenatal (masa kehamilan), pertolongan persalinan dan perawatan segera setelah persalinan, serta faktor sosial budaya.
Menurut Bappenas dalam konteks Indonesia, terbatasnya 14 akses perempuan terhadap fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas, terutama bagi perempuan miskin di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam pencapaian MDG 5 Target 5A. Penyediaan fasilitas PONEK, PONED, posyandu, dan unit transfusi darah belum merata dan belum seluruhnya terjangkau oleh seluruh penduduk. Sistem rujukan dari rumah ke Puskesmas dan ke rumah sakit juga belum berjalan dengan optimal. Faktor lain yang mempengaruhi tingginya AKI adalah akses jalan yang buruk ke tempat pelayanan kesehatan. Bappenas menambahkan faktor lain, yaitu faktor budaya di daerah tertentu. Secara nasional, menurut Detty S. Nurdiati, pakar Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, penyebab AKI paling tinggi adalah pendarahan. Sedangkan menurut McCharty J. Maine DA sebagaimana dikutip Nurul Aeni (2013), kematian ibu merupakan peristiwa kompleks yang disebabkan oleh berbagai penyebab yang dapat dibedakan atas determinan dekat, determinan antara, dan determinan jauh. Determinan dekat yang berhubungan langsung dengan kematian ibu merupakan gangguan obstetrik seperti pendarahan, preeklamsi/eklamsi, dan infeksi atau penyakit yang diderita ibu sebelum atau selama kehamilan yang dapat memperburuk kondisi kehamilan seperti penyakit jantung, malaria, tuberkulosis, ginjal, dan acquired immunodeficiency syndrome. Determinan dekat secara langsung dipengaruhi oleh determinan antara yang berhubungan dengan faktor kesehatan, seperti status kesehatan ibu, status reproduksi, akses terhadap pelayanan kesehatan, dan perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Determinan jauh berhubungan dengan faktor demografi dan sosiokultural. Kesadaran masyarakat yang rendah tentang kesehatan ibu hamil, pemberdayaan perempuan yang tidak baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, serta kebijakan secara tidak langsung diduga ikut berperan dalam meningkatkan kematian ibu.
Berperannya determinan dekat dan determinan jauh dalam AKI antara lain dapat dilihat dari hasil penelitian Pertiwi (2012) yang menunjukkan bahwa persentase persalinan dibantu oleh dukun, persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih sehat, dan persentase sarana kesehatan di tiap kabupaten/kota di Jawa Timur berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kematian ibu. Penelitian Aristia (2011) juga menyatakan bahwa persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih sehat berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kematian ibu.
Wakil Bupati, Hj. Ellya Rosa Siregar, S.Pd, MM berharap JHPiego dan stakeholder kesehatan kabupaten Labuhanbatu, bersama-sama memberikan dukungan kepada Bappeda dan Tim Penyusun RPJM agar program ini dijadikan prioritas dalam RPJMD tahun 2021-2026. (Legimin)