PEKANBARU, seputarriau.co - Dalam menyambut Milad yang ke-14, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) membuat sebuah acara diskusi dan sekaligus peluncuran buku tentang '14 Tahun Melawan Monopoli Penguasa Hutan dan Lahan (Cacatan Hitam Kelolo Hutan dan Lahan di Riau, 2002-2016' di Balai Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Jum'at (26/02/2016).
Diskusi yang sekaligus bedah buku ini, menghadirkan sejumlah pembicara seperti Woro Supartinah (Koordinator Jikalahari), Fedrizal Labai (Kadis Kehutanan), Azlaini Agus (mantan anggota DPR RI/mantan Komisioner Ombudsman RI), Ketua Harian LAM Riau, Al Azhar dan Nurul Qomar dari akademisi.
Dalam diskusinya, Woro membicarakan penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dan biang kerok dari bencana kabut asap yang setiap tahun terjadi di Riau. Hadirnya buku tersebut ditengah masyarakat diharapkan bisa menjadi pelengkap dari dua buku yang sebelumnya telah diterbitkan Jikalahari sebelumnya, yang berjudul ' Kejahatan Kehutanan di Bumi Lancang Kuning' dan 'Korporasi Korupsi Hutan Alam Riau'.
Dari hasil cacatan Jikalahari, bencana yang selala melanda Riau setiap tahunnya yaitu kebakaran hutan dan lahan serta banjir, merupakan suatu bukti bahwa hutan yang ada di Riau saat ini tidak lagi dapat menjaga keseimbangan lingkungan. Disforestasi yang dilakukan dengan cara selain menebang hutan alam yang menggunakan alat-alat berat, hutan dan lahan yang ada juga dibakar dan dirusak. Ini berdampak pada, rakyat Riau menghirup polusi dari hasi dari pembakaran lahan dan hutan khususnya hutan gambut sepanjang tahun 1997 hingga 2015 yang lalu.
Pemerintah baru mulai sibuk memikirkan memadamkan api denan cara "membakar" duit negara, mengerahkan tentara, menyewa helikopter dan rapat sana sani mencari solusi memadamkan api. Pemerintah, menurut Jikalari, hanya bertindak sebagai pemadam kebakaran, begitu hujan turun, tugas dianggap selesai.
(IS)