PEKANBARU, seputarriau.co - Malam ke 1 sampai ke 3, hari Ta'dziah T.Mieko tak jua sempat ku hadiri. Padahal seorang rekan, jurnalis idealis sudah menelphon berkali kali. Hari berganti dan dedauan kering berguguran. Begitu pula manusia, ia lenyap dari peredaran. Manusia batu lahir. Mengeja kembali kehidupan, yang lama mungkin saja dilupakan.
Tetapi, terkadang ada manusia yang bisa lebih lama dari kematiannya. Karena kehidupan seketika didunia, mengukir sejumlah kenangan berharga. Berupa Setumpuk karya, pesan ajaran, aforis aforisme, atau TINDAKAN BESAR.
Hasan Al Banna, pendiri Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir tidak sempat menulis buku, tetapi tindakan dan gerakannya melahirkan kader kader zaman, dan penulis penulis brilian. Fikiran Al Banna tetap hidup, gerakannya menembus usia, krn semasa hidup ia memberi makna.
Tetapi Buya Hamka dan M.Natsir mampu memadukan keduanya, pemikir-penulis dan sekaligus arsitek gerakan pembaharuan indonesia.
Di Riau, kita setidaknya bisa melihat beberapa nama. ADA Sahabat almarhum T Mieko, dan disebelahnya Termaktub Pe Amanriza, Edi Ruslan nan Amanriza. Kalau Mieko "sang Raja Geram" gemar "menampo" , pasang badan demi Sinama Nenek sampai masuk penjara. Maka Edi Ruslan Nan Amariza meluahkannya melalui "pemberontakan kata kata". T.Mieko -maaf- mempu**mak- kan tanah jawa, krn mengenceh (meloby) Sultan Siak gabung Indonesia. Bung Amanriza menulis puisi : "Akan Berpisah jua kita Jakarta." Melaungkan narasi pembelaan Melayu dengan perjuangan DIKSI....seperti Taufik Ismail, Mas Pram (mudia ananta tur) atau Chairil Anuar.
Cita rasa kedua manusia melayu Dwi Tunggal, T.Mieko-Pe Amanriza, tak kunjung menarik generasi muda dan pekerja budaya.
Diantara remah remah kemuraman peradaban Riau, yg hilang sasa dan asa, agaknya menukilkan kisah sahabat Mieko & Edi Ruslan Pe Amanriza, adalah tindakan mulia. Yg diperlukan serta makin aktual ditengah dinamika melayu yang makin "tak bertuan dinegeri sendiri".
Jiwa Hang Tuah, merapat dan mengais rezeki menghadap sultan, harus diimbangi dgn Jebat yang punya hobi "melawan arus" : mengaruk di istana dan turun ke laman..' agar anak kemanakan, cucu cicit, ipo duai, cekau cerangau, hidup berkecukupan, tak diketepi orang dalam perundingan, tak dililit hutang sepanjang hayat badan...
"
Lamat lamat ku saksikan dari kejauhan..negeri Riau tanah Melayu, makin melaju bersama ketidak pedulian. Suka Bergelut dalam persekongkolan. Ke hulu ke hilir bikin barisan. Di depan musuh segan dan sungkan.
Hari hari ini, bangsa melayu dan Riau sangat memerlukan narasi narasi "tampo tanggal kepale" ala Almarhum Mieko. Tutup Plang "Pekanbaru Bandar Madani" depan Simp Bandara SSQ ala "Bang Rhoma Irama Melayu...addduuh........lupe pulak namenye..) Atau Pekik Berpisah Jua Kita Jakarta Pe Amanriza nan Edi Ruslan...
Tetapi entahlah....mungkin sudah nasib Badan...atau Bangkit Generasi Baru, Darah Darah Jebat Milenial...napak tilas Mieko Pe Amanriza....atau Riau Dilanggar Todak...syabas Tuan Tuan...!!!
Oleh : Elviriadi
Tulisan ke-2 (habis).